BLACKBERRY MEBUAT AUTIS ?
"Blackberry", siapa yang tidak tahu dengan salah satu merek perangkat komunikasi ini? Hampir dapat dipastikan kalau semua orang dari semua kalangan tahu dan mengenal "Blackberry". "Blackberry" seperti sudah menjadi bagian dari sejarah peradaban manusia. Bagaiman tidak, karena hampir di seluruh bagian bumi ini membicarakan mengenai "Blackberry" dengan semua kecanggihan teknologi, kemudahan dan kelebihan yang dimiliki "Blackberry".
Tidak terkecuali juga di Indonesia, "Blackberry" seperti sudah menjadi wabah. Dari mulai pengusaha, karyawan, selebriti, ibu rumah tangga, mahasiswa-mahasiswi, pelajar dan bahkan anak-anak yang mungkin mereka sendiri sebenarnya belum mengerti betul akan fungsi dan kegunaan dari software dan aplikasi yang ada di dalam "Blackberry". Belum lagi keuntungan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan provider yang mengusung "Blackberry", ini semakin membuat orang-orang bernafsu untuk memiliki "Blackberry". Karena mereka berfikir bahwa "Blackberry" akan semakin memudahkan mereka untuk menjalin komunikasi dengan rekan, sahabat atau keluarga. Memang banyak juga sisi positif dan manfaat dari "Blackberry", tapi itupun bagi mereka yang benar-benar paham dan mengerti bagaimana menggunakan dan mengfungsikan "Blackberry" untuk kepentingan positif dalam hidup mereka.
Tapi menurut pengamatan saya, "Blackberry" bagi sebagian orang justru seperti candu yang benar-benar sudah bercampur dengan darah dan daging mereka. Sepertinya tidak ada "Blackberry" maka hidup mereka kosong, hampa seperti hidup sendiri. Karena "Blackberry" sudah menjadi bagian dari keseharian hidup mereka, dari mulai bangun tidur di pagi hari sampai saat akan memejamkan untuk tidur di malam hari semua tidak lepas dari "Blackberry', dan Blackberry selalu dalam genggaman. Akhirnya secara tidak sadar, sebagian orang tersebut mundur beberapa langkah dari komunitas sosial di lingkungan tempat mereka berada. Mereka mulai tidak perduli dengan lingkungan sekitar mereka saat mereka sedang asyik dengan "Blackberry"-nya, bahkan saat ngobrol dan ngumpul dengan kelompok teman-teman saja komunikasi sudah tidak lagi menggunakan lisan, tapi sudah pakai bbm. Duduk diam 1-3 jam di satu tempat dengan "Blackberry" di tangan, asyik sendiri dengan sekali-sekali tertawa sendiri dan terkadang kesal sendiri dan mengumpat di hadapan "Blackberry' yang ada di tangannya itu. Saya menamakan gejala ini sebagai "Blackautis" atau "Autisberry", karena mereka benar-benar sudah asyik dengan dunianya sendiri dan seperti lupa atau tidak perduli lagi dengan lingkungan sekitar mereka, bahkan duduk berdua saja udah saling asyik sendiri, seperti yang tidak saling kenal. Memang tidak ada penelitian akan hal ini, ini hanya berdasar pada pengamatan saya saja. Dan dari pengamatan saya inilah, saya mengambil kesimpulan bahwa bagi sebagian orang, "Blackberry" akan mengubah mereka menjadi seperti orang yang menderita "Autis".
Barangkali perlu dilakukan suatu penelitian ilmiah dengan didukung oleh data-data faktual agar mendapat gambar yang lebih kongkrit mengenai dampak Blackberry, terutama dari sisi aspek sosial. Bagi para siswa SMA Dwiwarna yang sedang memilih thema untuk karya ilmiah, dapat kiranya mengambil thema mengenai pengaruh Blackberry tersebut. (Dari berbagai sumber)
Berikut ini ada efek buruk yang udah pake blackbery Blackbery memang jadi trend di Indonesia namun belakangan diketahui bahwa BlackBerry ternyata memberi efek buruk bagi pemakainya. Berikut adalah akibat-akibatnya antara lain:
1. Rela disuruh antri, semakin panjang semakin tenang, gak menunjukkan gejala kekesalan sama sekali.
2. Yang tadinya ngedumel saat macet, sekarang tenaaaaang.
3. Berharap kena lampu merah berulang-ulang. Kalo lampu berubah jadi ijo malah kesel. Tetep nekad jawabin email/chatting.
4. Sering diklaksonin orang lain, sampe disaranin pasang stiker di belakang mobil "harap sabar, BlackBerry user".
5. Waktu BAB jadi tambah lama. Padahal isinya udah kosong tapi tetep aja nongkrong.
6. Tidur miring nungguin pasangan sambil BB di tangan. Kejar target ngabisin baca email.
7. Suka senyum-senyum sendiri.
8. Gak konsen kerja bekerja/belajar
9. Bangun pagi yang pertama dicari BB dulu bukan yang lain.
10. Waktu diajak ngobrol orang tetep maksa jawab email/chatting. Cuek. Padahal yang ngajak ngobrol itu kadang boss atau gurunya sendiri.
11. Lebih senang disupirin daripada nyetir sendiri. Rela naik busway biar gak usah nyetir.
12. Jadi jarang marah tapi jadi sering dimarahin orang karena diajak ngobrol gak nyambung.
13. Kalo di tempat umum suka panik nyari stop kontak. Batere sekarat.
14. Kalo anaknya rewel langsung nunjukkin BB nya buat menghibur.
15. Sering lupa mencet tombol lift. Harusnya naik malah turun. Belum lagi kebablasan lantainya.
16. Kalo ngantri di bank pake nomor antrian, pas dipanggil di speaker gak denger. Pas kepala liat monitor kaget. Waks! Harus ambil antrian ulang. Tapi tetep tenaaaaang.
17. Langganan koran dan majalah masih tertumpuk rapi tak terbaca.
18. Sering kejedug karena kalo jalan mata tertuju ke layar BB.
19. Bikin tangan ga pernah kosong. Walaupun ga chatting, tetep aja BB di tangan!
Gak bisa taruh di kantong, tas.. uda settingannya gitu. BB kejait di tangan.
20. Membuat ketagihan
Perangkat telepon seluler pintar ini begitu mudah membuat pemiliknya merasa kecanduan. Studi Rutgers University pada 2006 menyimpulkan, Blackberry dan perangkat serupa memicu kenaikan penggunaan internet yang cukup signifikan, namun berdampak buruk bagi kesehatan mental.
21. Mengganggu tidur
Dengan layanan internet 24 jam, perangkat Blackberry akan bergetar atau berdering setiap saat, ketika ada email dan pesan singkat masuk. Dan setiap saat pula, pengguna akan memainkan Blackberry-nya, termasuk ketika sudah berada di tempat tidur. Tak jarang pula, pengguna begitu sensitif dengan getar Blackberry, sehingga mudah terbangun dari tidur untuk membuka pesan yang masuk.
Kebiasaan menyanding Blackberry di tempat tidur inilah yang akhirnya membuat tidur tak berkualitas. Dampak selanjutnya, tentu menyerang kesehatan. Bukan rahasia lagi bahwa rendahnya kualitas tidur berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
Sebuah penelitian mengungkap, pengguna Blackberry yang memiliki kebiasaan memainkannya sebelum tidur rentan mengalami insomnia, sakit kepala, dan kesulitan berkonsentrasi. Penelitian yang dilakukan Uppsala University di Swedia menambahkan bahwa radiasi telepon seluler bisa mengganggu aktivitas tidur.
22. Memicu cemas
Memiliki telepon selular cerdas semacam Blackberry memang menyenangkan bagi sebagian orang. Dengan Blackberry, aktivitas berkirim email, chatting, hingga berselancar di internet bisa dilakukan bersamaan, kapan saja, dan di mana saja. Banyak pula yang mengandalkannya untuk urusan pekerjaan.
Studi yang dilakukan MIT's Sloan School of Management pada 2007 mengungkap, penggunaan Blackberry membentuk budaya stres di tempat kerja. Fasilitas internet 24 jam yang dijagokan telepon seluler pintar itu mengacaukan waktu luang pekerja. Tugas dan hal-hal yang menyangkut pekerjaan bisa hadir kapanpun, termasuk kala sedang libur.
23. Melemahkan otak
Di balik kemudahan yang diberikan, Blackberry berisiko melemahkan daya konsentrasi penggunanya. Karakternya yang mampu membuat pengguna melakukan sejumlah hal dalam waktu bersamaan (multitasking) cenderung membuat seseorang kesulitan menyerap informasi lantaran fokusnya mudah beralih dari satu hal ke hal lain.
"Sebagai multitasker, otak mereka dibanjiri terlalu banyak informasi, akibatnya mereka tidak selektif lagi untuk memilah informasi yang penting dengan cepat," kata Dr David W Goodman, Direktur Pusat Gangguan Psikologis di Maryland, Baltimore.
Untuk itu, ia menyarankan para pengguna Blackberry agar tak mengaktifkan jaringan internetnya selama 24 jam. “Buat jadwal untuk membuka email, misalnya satu jam sekali, atau dua jam sekali," kata Goodman. "Jangan menjadikan diri sebagai budak getar atau dering Blackberry.".

